Wednesday, January 16, 2013

Belajar Akuntansi: Mulai Dari Mana (Bag-1)

Kalau mau belajar akuntansi untuk pertama kalinya, sebaiknya dari mana mulainya? Ini pertanyaan yang lumrah dan sering diajukan, tetapi sungguh sulit untuk dijawab. Memang ada syllabus dalam setiap sekolah, kampus atau tempat kursus yang khusus mempelajari Akuntansi. Tetapi, apakah syllabus itu sungguh-sungguh mampu memberi petunjuk yang dapat membuat setiap pelajar atau mahasiswa untuk mengerti Akuntansi dengan mudah?
Entahlah. Limabelas tahun perjalanan karir saya di bidang Akuntansi, cukup memberi saya gambaran betapa lemahnya syllabus Akuntansi yang banyak tersedia saat ini. Entah asal-asalan atau terlalu bertele-tele hingga hanya meninggalkan kebingungan bagi banyak bahasiswa.
Hal itu jelas tampak ketika saya merekrut pegawai Akunting, dimana kebanyakan dari mereka (terutama yang baru lulus) masih bingung hanya untuk mengklasifikasikan transaksi keuangan, apalagi untuk menjalankan proses Akuntansi yang sesungguhnya.




Untuk memulai, hal yang paling utama dan wajib diketahui adalah: Akuntansi adalah alat (bukan hukum)
Ya. Akuntansi adalah alat yang membantu pengguna untuk memahami posisi keuangan perusahaan (memperoleh laba atau merugi). Bukan hukum. Misalnya: anda seorang pemilik usaha kecil menjalankan bisnis tunggal. Tidak apa-apa jika anda merekam penerimaan dan pengeluaran kas di kolom yang sama (meskipun persamaan akuntansi mengatakan bahwa anda harus mencatat mereka di sisi yang berbeda), asalkan anda mampu membedakan mana uang yang diterima dan mana yang dibelanjakan. Anda tidak akan masuk penjara hanya karena anda tidak mengikuti rumus persamaan akuntansi.
Juga, tidak ada yang sungguh-sungguh ‘salah dan benar’ dalam akuntansi. Katakanlah bahwa sebuah perusahaan membuat Laporan Laba Rugi yang menunjukan laba sebesar Rp 10 Juta. Apakah angka laba itu benar atau salah?
Lalu anda memeriksa, menelusuri dan menggali setiap angka terkait untuk membuktikan apakah laba 10 juta itu benar atau salah. Dalam pemeriksaan tersebut kebetulan anda menemukan fakta bahwa ada kesalahan dalam memnukukan transaksi persediaan, Rp 200,000 lebih besar dari ‘seharusnya’.

Pertanyaannya: Metode Harga Pokok Penjualan (HPP) apa yang dipakai? Mungkin anda mengatakan ‘FIFO’. Bagaimana jika pembukuan menggunakan perhitungan fisik?
Itu artinya, setiap perbedaan yang muncul dalam Akuntansi bukan semata-mata tergantung pada angka-angka, melainkan juga tergantung pada metode dan standar Akuntansi yang dipakai. Perlu diketahui bahwa, ada berbagai macam metode dan standar Akuntansi yang dipakai, dan setiap orang (perusahaan) dapat memilih salah satunya sepanjang diterapkan secara konsisten. Jadi intinya, bukan soal salah-atau-benar. Melainkan sesuai atau tidak sesuai dengan standar tertentu, konsisten atau tidak konsisten dalam menerapkan suatu standar.
Itulah sebabnya mengapa “Pendapat Akuntan” dalam Laporan Audit bukan salah atau benar. Melainkan “wajar-atau-tidak wajar”, tidak seperti KUHP yang mengatakan benar-atau-salah. Wajar-atau-tak wajar yang dimaksudkan oleh Akuntan selalu merujuk pada standard an metode Akuntansi tertentu. Di Indonesia misalnya, selalu merujuk pada ‘Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK), yang dibuat oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).

Penerapan standar akuntansi menjadi wajib ketika badan otiritas tertentu mewajibkannya berdasarkan perundang-undangan. Misalnya: Perusahaan-perusahaan berstatus go-publik (tercatat di bursa saham) wajib menerapkan PSAK. Lembaga penyedia kredit (pinjaman), bank misalnya, dalam banyak hal juga mensyaratkan perusahaan untuk menerapkan PSAK secara ketat.

Keharusan-keharusan tersebut dimaksudkan agar pihak ketiga (investor, pemegang saham, pemberi kredit, ditjend pajak, dsb) bisa memahami laporan keuangan perusahaan secara pasti, tidak bingung akibat metode pencatatan dan pelaporan yang tidak sesuai dengan metode dan standar yang ditentukan.
Kembali ke masalah pencatatan penerimaan dan pengeluaran kas. Katakanlah anda mencatat setiap transaksi di kolom yang sama. Sekali lagi, jika ini perusahaan kecil (tidak berstatus go publik), tidak masalah. Lalu, pada akhir bulan anda ingin tahu apakah bisnis anda untung atau rugi. Jika jumlah transaksinya sedikit tentunya anda tinggal menjumlahkan semua penjualan, lalu dikurangi dengan jumlah semua pengeluaran (biaya). Maka anda akan memperoleh angka pasti apakah untung atau rugi dan berapa besarnya. Bagaimana jika anda memiliki ribuan transaksi dalam satu bulan? Anda pasti membutuhkan alat untuk membantu anda untuk mencatat, dan mengelola keuangan perusahaan. Disinilah fungsi Akuntansi menjadi vital sifatnya.
Sehingga secara keseluruhan, Akuntansi bukanlah hukum, melainkan alat. Lanjutan seri dasar ini, akan membahas tentang hal-hal apalagi yang perlu perlu diketahui jika ingin belajar Akuntansi.

sumber: jurnalakuntansikeuangan.com

No comments:

Post a Comment